Mohon maaf, belum bisa ke tahap selanjutnya

“Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada tutur kata, sikap dan perbuatan saya yang kurang atau tidak berkenan dalam proses pencalonan saya sebagai Rektor ITB 2010-2014″, mungkin ini ucapan yang bisa saya sampaikan terkait tidak bisanya mengikuti tahapan pemilihan selanjutnya. Ucapan ini saya sampaikan kepada semua orang-orang yang setia dan sabar, penuh kegigihan dan dukungannya kepada saya dalam mengikuti pemilihan Rektor ITB.

Hari Jumat 21 Agustus 2009, pukul 18.00 WIB, saya menerima telpon dari Prof. Djoko Suharto, Ketua Pemilihan Tingkat MWA. Beliau berbicara singkat dan mohon maaf karena beliau mendapatkan ‘informasi-informasi’ dari orang lain tentang saya, sehingga tidak dapat mengikuti tahapan selanjutnya. Kemudian sayapun menanyakan ‘informasi orang lain’ tersebut. Pak Djoko kemudian mengakatan bahwa ‘informasi’ yang dimaksud adalah ‘integritas’ saya.

Saya diam sejenak, sekitar 5 detik!:-). Rasanya percakapan saat itu dengan pak Djoko berlangsung sangat lama, jam-jam an. Tapi akhirnya saya merespon keputusan itu dengan ‘baik pak Djoko, terimakasih’. Telpon pun saya tutup dengan perasaan tidak nyaman. ‘Informasi integritas saya dari orang lain kepada panitia?’ kembali saya merenung.

Orang-orang yang selalu memberikan perhatian, dukungan, semangat terkait pencalonan sayapun saat itu juga dihubungi. Saya mengatakan hal yang sama kepada orang-orang tersebut, isinya mirip dengan apa yg saya tulis di blog ini. Mulai dari sopir, teman dekat saya di ITB, mahasiswa, alumni, dosen, senior saya bahkan menteri juga saya hubungi. Pada dasarnya mereka tidak mengerti dengan keputusan tersebut.

Hari ini, Senin 24 Agustus 2009, dengan ketulusan hati yang paling dalam, saya menerima keputusan panitia pemilihan rektor ITB. Saya merenung, mungkin saya memang belum layak dan pantas untuk mengikuti tahapan selanjutnya. Ini harus saya terima sebagai kenyataan dan merupakan titik awal baru lagi bagi saya untuk memperbaiki apa yang sudah, sedang dan akan saya jalankan selanjutnya.

Sekali lagi terimakasih atas semua dukungan rekan-rekan semuanya, senior-senior saya, mahasiswa, para alumni, rekan pegawai dan juga buat pak Menteri atas semangatnya. Mohon maaf, karena saya belum bisa membuat rekan-rekan semuanya tersenyum. Wassalam.

5 Responses to “Mohon maaf, belum bisa ke tahap selanjutnya”

  1. Romi Hardiyanto Says:

    He?

    Kenapa nggak diceritain saja Pak, ‘informasi’ lainnya itu apa?

    Kalau tidak cerita sekarang, kapan lagi? Misalnya, 5 tahun lagi Pak Ketut mencalonkan lagi? Apa iya ‘informasi’ lainnya ini tidak berpengaruh lagi? Kalau diceritakan sekarang, mungkin Pak Ketut atau orang lain bisa mengambil hikmahnya sekarang juga atau nanti.

    Kecuali, maaf, kalau ‘informasi’ menyangkut masalah kehidupan pribadi.

  2. azrl Says:

    Wah ini berita mengejutkan. Saya kira harus diklarifikasi pak, persisnya apa.

  3. ibn Says:

    Sukar dipercaya, pak!

  4. Rinaldi Munir Says:

    Oalah Ketut…, kok jadi begini ya ceritanya. Belum juga mulai sudah di-cut, dipertanyakan integritasnya. Integritas apa? Kok bisa-bisanya panitia menghentikan langkah seseorang sebelum ujian berlangsung? Turut berempati, semoga tetap semangat ya.

  5. karen Says:

    Harta, jabatan, merupakan rizki dari Yang Maha Kuasa. Tidak ada yg tahu kapan datang dan perginya. Karena itu kita harus siap untuk menerima atau kehilangan sesuatu yg kita inginkan.
    Aku ikut prihatin dengan keadaan ini. Menurutku bukan masalah integritas (integritas Bapa tidak perlu dipertanyakan).
    Tapi, masih ada kesempatan untuk periode 2015-2020.
    Semangat terus yah !!!


Leave a Reply