Apa yang anda inginkan ITB saat memasuki tahun 2015? Pasti bisa bermacam-macam dan itupun bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang anda cita-citakan. Tapi, saya punya keinginan terukur terhadap ITB pada tahun 2015. Keinginan terukur itu harus didasari pada kondisi ITB saat ini dan peluang pengembangannya lima tahun ke depan. Apa cita-cita saya terhadap ITB 2015? Berikut ulasannya;
Cita-cita atau keinginan mesti didasari pada kondisi saat kini serta usaha-usaha apa saja yang perlu dikembangkan untuk mencapai cita-cita tersebut. Dengan demikian maka sebagian besar cita-cita akan dapat tercapai. Tanpa usaha jangan berharap cita-cita itu akan tercapai bahkan sebagian kecil dari cita-citapun tidak akan pernah diraih.
Kenapa kita perlu cita-cita tinggi? Karena tanpa cita-cita tinggi kita tidak akan pernah merasakan kemajuan dan kesejahteraan. Begitu juga dengan ITB. ITB tanpa cita-cita tinggi sama halnya dengan manusia tanpa perasaan. Kenapa ITB perlu cita-cita tinggi? Karena ITB merupakan institusi akademik yang mengemban amanah rakyat untuk dapat memajukan bangsa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan IPTEK dan Seni maka umat manusia akan dapat merasakan kemajuan dan kesejahteraan. Rakyat Indonesia pada akhirnya akan merasakan itu semua.
Bayangan civitas akademika ITB tentang institusinya pada tahun 2015 pasti akan beragam. Bisa jadi ada 100 cita-cita beragam bahkan bisa lebih. Dari seratus bahkan ribuan keinginan itu hakikatnya akan berujung pada bagaimana institusi ini dibawa dan dituntun sehingga kemajuan IPTEK dapat dirasakan oleh para insani institusi ini dan merekanpun sejahtera karenanya.
Optimiskah jika ITB punya cita-cita tinggi maka sebagian besar bahkan semuanya akan bisa tercapai? Jawabannya adalah ya! Kenapa? Berikut beberapa alasan kuatnya:
1. ITB punya tradisi kuat untuk memberikan kursi-kursi tempat kuliah kepada calon mahasiswa dengan kecerdasan tertinggi. Ini terus dipertahankan sampai sekarang walau proses seleksinya dengan cara yang beragam. Kualitas intelektual calon mahasiswa tidak dapat dinegosiasi sekecil apapun;
2. ITB punya pengalaman malang melintang tentang bagaimana cara mendidik mahasiswa terbaiknya dengan kondisi akademik kondusif, kompetitif dan menggairahkan;
3. ITB punya rekam jejak penelitian tingkat dunia. Dosen dan mahasiswa menjadi tim kompak yang dapat saling melengkapi, kuat dan punya tingkat kreatifitas dan inovasi tinggi;
4. ITB telah banyak belajar dari perguruan tinggi kelas dunia, ini dibuktikan dengan alumni dosen yang berasal dari manca negara. Dan ITB pun telah dipercaya oleh beberapa donatur manca negara untuk membiayai riset;
5. ITB mempunyai kepercayaan diri tinggi untuk mengikuti kegiatan-kegiatan internasional baik yang bersifat kompetisi secara akademik maupun non akademik;
Apakah semua itu sudah cukup? Belum! Masih jauh dari cukup. ITB harus berusaha lagi secara ekstra-keras. ITB harus berkomitmen untuk mengubah birokrasi akademik yang justeru menghambat kegiatan akademik itu sendiri. Profesionalisme harus dijunjung tinggi oleh ITB. Penempatan academic leader harus tepat. Jangan menempatkan peneliti sebagai pemimpin birokrasi, ini akan bermasalah. Kembalikan posisi-posisi tersebut, apapun posisinya kepada orang yang tepat. ITB harus fokus pada penempatan orang yang dapat mengelola ITB secara benar. Manajer-manajer yang profesional sangat dibutuhkan oleh ITB. Jangan menempatkan staf akademik untuk menjadi manajer yang bukan keahliannya. ITB harus sadar akan kekeliruannya selama ini.
Kesejahteraan staf pengajar dan pegawai ITB juga harus menjadi pekerjaan rumah besar saat kini. Apakah dosen dan pegawai ITB sudah sejahtera? Tidak sama sekali. Jangan membandingkan kesejahteraan dosen dan pegawai ITB dengan staf perusahaan BUMN telekomunikasi terbesar di Indonesia. Sangat jauh perbedaannya. Jangankan dengan BUMN tersebut, dengan staf dosen dan pegawai universitas negeri lainnya, mungkin kesejahteraan ITB masih ketinggalan. ITB jangan pernah berharap bahwa sumbangan pendidikan mahasiswa akan meningkatkan kesejahteraan ITB.
Akhirnya, dengan lima (5) modal awal seperti dipaparkan di atas, ITB dapat mengembangkan jejaring nasional dan internasional untuk melakukan pembaharuan dalam bidang birokrasi, profesionalisme, manajemen dan kesejahteraan. Jejaring ini belum dimanfaatkan dengan baik oleh ITB. Belum lagi saudara kembar ITB yaitu Alumni ITB. Alumni ITB bak ‘bongkahan berlian’ yang bernilai luar biasa.
Jika ITB konsisten untuk memanfaatkan modal awal yang ada dan disertai reformasi dalam birokrasi, profesionalisme dan manajemen maka pada tahun 2015 ITB akan berada pada kondisi sebagai berikut;
1. ITB masuk 100 perguruan tinggi dunia (untuk semua bidang);
2. ITB mempublikasikan rata-rata 500 karya ilmiah per tahun pada kegiatan internasional maupun jurnal internasional;
3. Setiap fakultas mempunyai satu program studi kelas internasional;
4. Setiap Fakultas/Sekolah mempunyai minimal 2 program studi double degree yang berafiliasi dengan perguruan tinggi terkenal di dunia;
5. Terbangun jejaring ITB dengan 100 perguruan tinggi dunia;
6. Jumlah mahasiswa S1, S2 dan S3 ITB dari luar negeri masing-masing 5% dari total umlah masing-masing mahasiswa yang ada;
7. ITB mendapatkan hibah penelitian dari komunitas internasional rata-rata sebesar US$ 10 juta per tahun;
8. Gaji dan insentif dosen terendah Rp 10 juta;
9. Gaji dan insentif pegawai naik 3 kali lipat;
10. Mulai dibangun perumahan dosen dan pegawai secara bertahap. Diharapkan pada tahun 2025 semua dosen dan pegawai telah mendapatkan jatah rumah;
11. Gaji Rektor ITB mencapai Rp 80 juta per bulan;
12. Semua staf dosen dan pegawai mendapatkan asuransi rawat inap dan rawat jalan;
13. Semua staf dosen dan pegawai mendapatkan gaji ke-13 dan ke-14;
14. ITB secara rutin setiap tahunnya mengirimkan mahasiswa dari semua Fakultas/Sekolah ke luar negeri untuk mengikuti kontes, kompetisi dan kegiatan internasional baik yang bersifat akademik maupun non akademik;
15. ITB mempunyai fasilitas riset lengkap di semua program studi yang ada;
16. ITB menjadi perguruan tinggi yang paling rutin memberikan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat di Indonesia.
Mudah-mudahan.
July 20, 2009 at 1:15 pm
Sangat setuju dengan pandangan kritis akan keprihatinan kondisi sekarang dan cita-cita ke depan yang optimis. Jaminan, perumahan, kesejahteraan adalah masalah klasik yang tak kunjung secara smart bisa diselesaikan karena tidak pernah mau dicita-citakan secara gamblang. Maju terus pak!