Disadari atau tidak, dan kalau mau jujur, banyak perguruan tinggi di Indonesia belum sepenuhnya menjalankan misi pengabdian kepada masyarakat dengan baik. Bisa jadi ini pertanda kemunduran peran perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Bagaimana dengan ITB?
Pengajaran dan penelitian mungkin sudah menjadi aktifitas sehari-hari di ITB bahkan dapat menunjukkan prestasi kelas dunia. Tapi apakah dharma yang satunya lagi yaitu pengabdian kepada masyarakat juga sudah menorehkan prestasi nasional (baca: membumi)? ITB sudah menjalankannya tapi belum menunjukkan hasil nyata bagi masyarakat.
Sudah saatnya ITB untuk lebih memberikan perhatian serius pada program pengabdian kepada masyarakat. Masyarakat Indonesia bahkan masyarakat sekitar kampus ITB membutuhkan uluran tangan nyata kampus ini. Pernah suatu saat, saya dibisiki pertanyaan oleh pejabat tinggi lembaga negara, “kenapa kota Bandung lalu-lintasnya semrawut padahal ada ITB?”. Pertanyaan yang sering saya dengar sehari-hari di kota kembang ini.
Banyak masalah ada di tengah-tengah masyarakat. Mereka tidak mampu mencari solusinya. Jangankan mencari solusi, mungkin mengerti masalah yang dihadapinya juga sama sekali tidak tahu. Dan lebih parahnya adalah jika masyarakat tidak tahu bahkan tidak peduli dengan masalah itu. ITB sebagai kampus yang juga menjadikan jati dirinya sebagai kampus perjuangan mesti serius dan lebih sistematis lagi dalam merencanakan program-program pengabdian kepada masyarakat yang lebih membumi.
Pada masa mendatang, program pengabdian kepada masyarakat mesti ditangani secara khusus dengan tujuan utama pada tahap awalnya adalah mengkoleksi segala jenis masalah yang ada di masyarakat. Semua jenis masalah tersebut kemudian diklasifikasi berdasarkan aspek tertentu, misal berdasarkan prioritas penanganan. Banyak masalah masyarakat yang membutuhkan dana. ITB tidak akan bisa menanganinya sendiri, oleh sebab itu ITB mesti berkoalisi dengan mitranya selama ini untuk keperluan itu.
ITB memang mesti menjadi superman. Bergengsi di tataran perguruan tinggi dunia tetapi juga mesti menukik tajam untuk membantu mencari solusi masalah-masalah masyarakat yang demikian banyak dan kompleks. Tidak mudah memang. Tapi dengan memberdayakan semua civitas akademika yang dimiliki oleh ITB, saya yakin, ITB dapat menjalani semua itu. Sekali lagi, ITB ditunggu oleh masyarakat banyak. ITB harus turun dan terjun langsung ke masyarakat. Jangan sampai masyarakat malu terhadap ITB. Malu karena merasa risih dan segan karena nama besar ITB. Ingat, ITB juga dibesarkan oleh masyarakat. ITB harus aktif, dan jika perlu mesti hiper-aktif. ITB bisa kok.
July 11, 2009 at 1:59 pm
Artikel ‘ITB harus hiper-aktif dalam pengabdian kepada masyarakat’ sangat menarik untuk disimak. Secara umum, lulusan perguruan tinggi di Indonesia, selalu ingin mendapatkan yang terbaik setelah lulus. Mendapatkan pekerjaan yg bagus, penghasilan yg cukup, dan sebagainya. Selama ini saya perhatikan, yang benar-benar mengabdi di tengah-tengah masyarakat untuk mengamalkan ilmunya, mungkin hanya 10 % dari jumlah lulusan. saya lulusan institut swasta, masih sering ke luar jawa. setiap saya berada di daerah manapun, saya prihatin dengan masyarakat setempat. klo hanya ada satu atau dua sarjana yg mengabdi, bagaimana nasib masyarakat terpencil? Mengabdi itu tidak selalu harus di kota2 besar, bahkan lebih baik di pedalaman, agar ada pemerataan pendidikan. Bukankah setiap manusia berhak mendapat pendidikan? ok, itu saja pendapat saya. maaf bila aku telat memberi pendapat karena baru buka blog anda.