ITB akan pincang jika masih ada eksodus

Rumah dengan suasana nyaman, taman yang indah, kamar tidur bersih, kamar mandi asri, pencahayaan yang cukup, tidak lembab, dengan fasilitas yang lengkap merupakan idaman keluarga siapapun. ITB juga begitu. ITB adalah rumah besar dimana semua penghuninya butuh kenyamanan, ketentraman dan lingkungan sehat rumah. Jika semua ini dipenuhi, maka individu-individu yang tinggal di rumah ITB akan tetap betah, tumbuh sehat dan akan menjadi insan berkualitas.

Eksodus adalah proses keluarnya masa (mass) dalam hal ini orang atau individu dari suatu tempat tertentu. Misalkan ada peperangan di suatu negara maka akan terjadi pengungsian besar-besaran untuk keluar dari medan peperangan tersebut untuk menyelematkan diri. Eksodus terjadi karena tempat yang dihuni oleh individu atau kelompok orang tersebut sudah tidak bisa memberikan kenyamanan lagi.

Dunia akademikpun bisa mengalami proses eksodus seperti halnya peperangan di atas. Fenomena eksodus (kecil-kecilan) dapat dialami perguruan tinggi manapun di dunia ini. Kenapa? Penyebab bisa banyak. Mungkin ternyata tidak cocok dengan dunianya akhirnya seseorang memutuskan untuk keluar dan mencari pekerjaan yang lebih cocok. Bisa juga karena lingkungan dimana orang tersebut melakukan aktifitas tidak nyaman baik di lingkungan akademik maupun kepegawaian atau administratif. Jadi dosen dan pegawaipun bisa memutuskan untuk eksodus.

Bagaimana dengan ITB? Apakah ada fenomena eksodus ini? Jawabnya: pasti ada, cuma tergantung skala eksodusnya bisa skala kecil maupun menengah dan parah. Bagaimana dengan perguruan tinggi lainnya? Saya yakin, pasti ada juga. Kenapa ini bisa terjadi? Ini masalahnya. Jika institusi pendidikan tidak peduli dengan fenomena ini maka dipastikan dalam jangka panjang institusi tersebut akan dirugikan. Tapi biasanya, ada saja alasan yang dipakai oleh institusi tersebut untuk berkelit kenapa seseorang pergi dari kampus. Biasanya tudingan akan dilamatkan kepada orang bersangkutan. Tidak mau mencari akar masalah yang sebenarnya kenapa orang tersebut hengkang. Jika kita mau jujur, pasti ada penyebab internal yang mengakar dari generasi ke generasi yang menyebabkan terjadi eksodus.

Di ITB ada fenomena eksodus ini. Dan ini harus dihentikan secepatnya. Kalau tidak, masa mendatang ITB akan pincang. Dan akan celaka jika yang eksodus tersebut dilakukan oleh orang-orang hebat secara akademik, organisasi maupun administratif. Saya perhatikan sendiri, orang-orang hebat ITB tersebut akhirnya lebih banyak di luar daripada di dalam. Ini sangat menyedihkan. ITB harus melakukan intropeksi menyeluruh dan secara total sehingga eksodus tidak terjadi lagi. Harus ada program untuk menarik dan mengajak orang-orang hebat tersebut untuk kembali ke ITB. Mari bangun ITB bersama-sama.

ITB harus sensitif terhadap eksodusnya orang-orang hebat ini. Harus ada evaluasi keorganisasian, hubungan, komunikasi dan pembangunan lingkungan sehat sehingga lingkungan nyaman dan bergairah dapat diwujudkan. Apa yang paling diharapkan oleh seseorang dalam beraktifitas dalam suatu lingkungan kerja tertentu? Pasti semua akan menjawab kenyamanan kerja. Ini mutlak diperlukan dalam rangka membangun ITB yang berkualitas. Hayo teman-teman yang diluar, kembali ke kampus, mari kita bangun ITB bersama-sama, mari kita bangun lingkungan nyaman dan sehat. Pasti bisa!

5 Responses to “ITB akan pincang jika masih ada eksodus”

  1. khairulu Says:

    kata Peter Drucker :

    ciri organisasi akan maju : menarik orang bagus
    ciri organisasi akan menurun : ditinggalkan orang bagus

    ITB dimana ya?

  2. Dian Nugraha Says:

    Bagaimana nasib orang yang masih tinggal di organisasi yang akan menurun?

  3. nugie Says:

    Ahh, menarik tulisannya. Saya bukan orang bagus di ITB, tapi saya pernah berniat mengabdikan diri di ITB. Tetapi ya memang karena situasi dan kondisi di ITB yang mungkin sedang tidak butuh pengabdian dari seorang lulusan S-2, jadilah saya S-3 di luar, setelah setahun ambil beasiswa dari diknas dan ber- S-3 di ITB dan dibiarkan terkatung2 (baca : ini masalah duit).
    Well, ITB mau bagus ? Gampang caranya : mulailah dengan KONSISTEN atas semua program2 yang sudah teken kontrak.
    Lihat program Smart Campus di jaman Pak Kusmayanto. Apakah sekarang berjalan konsisten ? Saya pikir tidak.
    Janji akan diperbantukan di ITB setelah lulus S-2 (saya angkatan pertama yang ambil beasiswa voucher ITB dengan janji2 seperti itu), apakah ditepati ? Tidak. Saya saksi hidupnya :P
    So ? di manakah saya akan mengabdi kelak ?
    Berdasarkan pengalaman selama ini, ditambah kenyataan bahwa ITB lebih mementingkan membangun lapangan parkir buat mobil daripada meningkatkan kualitas pendidikan, saya pikir saya tidak akan mengabdi di ITB.

  4. ided Says:

    ada pepatah cina mengatakan….

    Laut itu tak perlu dalam, yang penting ada guritanya disitu…dan gunung itu tak perlu tinggi yang penting ada naganya disitu….

    Kapan ITB punya nobel prize winner?

  5. karen Says:

    Tulisan ini cukup menarik. Beberapa saudara saya kuliah di ITB. Juga dulu, kalau saya praktikum, tempatnya di ITB karena semua dosen dari ITB dan ada kerjasama institut tempat saya kuliah dengan ITB. Saya mengetahui ada kemunduran di ITB. Menurut saya, sistem institusi pendidikan di ITB yang harus diperbaiki. Bukankah sistem yang baik akan menghasilkan orang2 yang baik pula? Dengan sistem yang baik, saya yakin tidak akan terjadi eksodus. Ok….sukses terus.


Leave a Reply