“Mama beli gelang yang 20 gram saja…”

Seminggu yang lalu, saya ke Jakarta naik kereta. Kereta adalah moda transportasi favorit saya. Walau sering mogok tanpa alasan dan dengan pelayanan yang berusaha untuk maksimalĀ serta fasilitas toilet yang juga pas-pasan tapi saya tetap pengguna setianya. Alasannya sederhana, saya bisa menikmati pemandangan perbukitan hijau berkelok-kelok, hamparan sawah luas, dengan aktifitas penduduk di kampung-kampung dan lahan pertanian sampai ke permukiman kumuh sebelum mencapai stasiun Jatinegara dan Gambir.

Kebetulan saya berangkat subuh, naik kereta jam 5.00 pagi. Berarti dari rumah paling telat jam 4.30. Dipastikan saya akan mengalami serangan rasa kantuk yang luar biasa. Dari rumah jam 4.30, berarti saya harus sudah bangun paling telat jam 4.00. Biasanya baru tidur jam 12.00 malam. Itu artinya saya hanya dapat menikmati kasur dan bantal hanya 4 jam belum terganggu keinginan ke toilet dan mimpi yang gak karuan (he..he..).

Akhirnya sayapun tiba di stasiun Bandung jam 5 kurang 7 menitan. Saya pilih yang kelas eksekutif saja walau terasa seperti di dalam kulkas karena AC nya bermerk paling top sejagat raya. Saya pilih tempat duduk agak di belakang. Di belakang saya ada beberapa penumpang, salah satunya bapak yang sudah berumur paruh baya.

Saya rapikan jaket, tempat duduk saya stel supaya nyaman dan bantal mungil saya dekap seeratnya supaya terasa hangat. Saya pikir, ini kesempatan bagi saya untuk dapat menikmati perjalanan dengan cara tidur. Selang beberapa saat, keretapun jalan. Lima belas menit berlalu, saya masih dalam kondisi setengah sadar dan akan memulai aktifitas tidur saya. Tepat rasa kantuk mencapai puncaknya tidak terasa sayapun tertidur. Tapi rasanya baru lima menitan tertidur tiba-tiba saya terbangun dengan suara rada keras. “halo..halooo..halo….” suaranya cukup keras. Mungkin karena sinyal komunikasi kurang bagus akhirnya bapak yang berumur separuh baya itu ‘teriak-teriak’.

Wah, tidak bisa tidur kalau sudah begini. Bener apa yang saya duga. Bapak itu terus melanjutkan percakapannya yang masih seputar “halooo…haloow…halowww…”. Berusaha agar suara keras ‘halo-halo’ nya terdengar oleh lawan bicaranya. Akhirnya nyambung juga. Mulailah si bapak ini ngobrol dengan volume suara yang masih sama cukup keras. Sayapun tidak bisa melanjutkan aktifitas tidur.

Si bapak tersebut tiba-tiba membicarakan masalah gelang. “Ya, mama beli gelang yang 20 gram saja…”. “Mama mau tidak?”. “Ya kalau mau beli saja di toko yang sebelumnya”. “Kalau uangnya tidak cukup pakai uang kontrakan saja”. “Lho katanya toko tutup lebiha awal hari jumat?”. “Ya, makanya beli pagi hari saja”……..

Kira-kira demikian percakapan yang dilakukan oleh bapak itu. Saya pikir, tamapaknya bapak ini tidak punya waktu untuk membicarakan masalah pembelian gelang (he..he..). Sampai bela-belain membicarakannya di dalam kereta, pada pagi hari dimana penumpang lain masih mengharapkan dapat menggunakan waktu perjalanannya untuk beristirahat (termasuk saya….). Percakapan bapak itupun cukup lama, mungkin sekitar 25 menitan dan tema percakapannya berkisar antara gelang, mas, 20 gram he..he…

One Response to ““Mama beli gelang yang 20 gram saja…””

  1. Ikkyu_san Says:

    hahahaha masih untung bicara soal gelang pak.
    Bukan urusan dalam negeri atau berantem.
    Pasti bapak kangen kereta Jepang ya? hihihi Yokosuka sen atau Sobu sen?
    Dulu saya naik yokosuka sen dari yokohama langsung Inage. ahhh nostalgia lagi deh

    EM


Leave a Reply