Sekali lagi tentang Taman Kota yang terbatas

Sewaktu liburan lebaran lalu terasa sekali masyarakat haus akan hiburan dan tempat-tempat yang nyaman untuk rekreasi. Ini terbukti dengan membludaknya pengunjung Kebun Binatang Bandung di jalan Tamansari sana. Bisa dikatakan saat itu fungsi kebun binatang berubah menjadi kebun manusia (he..he..).

Tempat hiburan lainpun begitu, penuh sesak bahkan mungkin sulit untuk bernafas dan mendapatkan oksigen segar. Ini fakta dan terjadi setiap tahun. Dimana lagi ada tempat nyaman di kota Bandung ini? Anak-anak bermain bukannya di taman tapi di mall, supermarket bahkan pasar kotor dan pengap. Sangat menyedihkan. Eh, bukannya berpikir untuk membuat tempat atau taman sejuk, malah Pemkot Bandung berkeinginan untuk mengubah Babakan Siliwangi (Baksil) menjadi tempat makan (restoran).

Baksil akan ditata sedemikian rupa sehingga tidak akan merusak ekosistem dan habitat didalamnya. Begitu kata pejabat berwenang. Masyarakat tidak percaya lagi dengan janji manis itu. Ujung-ujungnya mah pemkot ingin mendapatkan keuntungan dari perubahan Baksil yang sekarang. Walau studi kelayakannya mumpuni tapi siapa yang bisa menjamin lingkungan Baksil akan tetap asri dan nyaman ketika sudah terbangun restoran disana? Lagu lama!

Coba pikirkan keinginan masyarakat untuk bisa menghirup udara segara di taman-taman kota yang asri. Yang dilakukan masih terbatas pada pembuatan ‘taman portable’ di persimpangan jalan. Itu belum cukup dan sangat tidak cukup. Banyak sekali lahan kosong milik pemkot yang dapat diubah menjadi taman kota yang luas dan segar. Ini mah masalah kemauan dan keseriusan pemkot dalam melayani masyarakatnya. Anak-anak generasi sekarang tidak bisa menikmati taman kota dengan fasilitas bermain lengkap. Baru ada taman lalu lintas dan itupun tampaknya ide pribadi seseorang yang ingin anak-anak kota Bandung bisa bermain lebih leluasa.

Mungkin kebanyakan kota-kota di Indonesia mengalami hal yang sama dengan kota Bandung. Banyak mall dan supermarket yang kosong tapi taman kota terbatas bahkan tidak ada sama sekali. Susah sekali membangun taman kota ya? Rugi ya, kalau membangun taman kota yang asri? Aya-aya wae…

6 Responses to “Sekali lagi tentang Taman Kota yang terbatas”

  1. Oemar Bakrie Says:

    “taman portable” ? istilah yg lucu juga … tapi istilah “portable” kan untuk yg bisa dipindah ke mana2 sementara kayaknya taman itu cuma di situ2 saja sampai nanti habis karena nggak keurus, bagaimana kalau “taman ala kadarnya” ? …

  2. Arry Akhmad Arman Says:

    Tidak sulit menurut saya. Banyak perusahaan besar (terutama saat ini perusahaan rokok) yang mempunyai budget SANGAT BESAR untuk iklan. Karena mereka tidak boleh beriklan dengan “menganjurkan merokok”, akhirnya mereka beriklan dengan cara-cara yang kreatif untuk membentuk image di mata masyarakat.

    Dari pada membangun jembatan penyebrangan yang jelas-jelas merusak pemandangan dan tidak ada penggunanya (misal di Dago), saya kira dengan mudah dana dari mereka kita salurkan untuk membangun dan memelihara taman-taman kota.

    Salam dari Labtek 8.
    Arry Akhmad Arman

  3. wikantika Says:

    Pak hendra, taman portable yang saya maksud adalah taman yang dibuat di pertigaan atau perempatan seperti di depan kantor rektorat ITB. Bisa digeser-geser atau dipindahkan..he..he..

  4. Ikkyu_san Says:

    Hmmm perkataan pak Arry tentang perusahaan rokok itu kok langsung nyamber di otak saya. Karena warga Tokyo juga bisanya merokok hanya di tempat yang disediakan, tidak boleh merokok sambil jalan, dan…di taman kota (di tempat-tempat tertentu disediakan asbak umum) Kalau mereka (produsen rokok) membuat taman kecil di samping bangunan, dan bangunan itu no- smoking building…mustinya kan pada lari ke taman. …..

  5. madeyusadana Says:

    kata salah seorang penutur kehidupan “ramainya taman-taman tempat hiburan saat hari raya..menandakan keringnya taman-taman dalam diri manusia, akankah kebahagiaan selalu dicari diluar sana?? tanpa pernah menyiram bunga ditaman kehidupan kita??”

    salam
    MY

  6. wikantika Says:

    bli made, terimakasih atas kunjungan dan komentarnya yang memberikan warna tersendiri atas tulisan-tulisan saya. sukseme.


Leave a Reply