Watak orang banyak macamnya. Dan banyak mengatakan bahwa watak itu dibawa sejak lahir. (Katanya juga) Watak melekat sejak lahir sampai mati. Artinya jangan berharap watak bisa berubah (kecuali rekayasa DNA..he..he..ini juga katanya). Tapi yang menjadi repot jika watak bruuk semakin dipelihara oleh yang bersangkutan. Salah satu watak buruk yang dipunyai manusia adalah cepat tersinggung (delicate).
Apa untungnya punya watak cepat tersinggung? Mungkin bagi yang punya tidak pernah merasakan buntungnya punya watak seperti itu. Tapi jika watak itu mengakibatkan orang lain menjadi tidak nyaman, ini yang sangat merepotkan. Sedikit-sedikit tersinggung. Baru keluar satu kata dari mulut seseorang, sudah merasa tersinggung (he..he..).
Saya sebagai dosen, mutlak tidak boleh punya watak cepat tersinggung. Jika punya, bisa jadi mahasiswa saya bakalan ‘lari’ semuanya. Diajak ngobrolpun tidak akan pernah merespon karena takut salah omong. Sikap tidak mudah tersinggung ini wajib bagi seorang guru. Seharusnya ada tes tentang ‘tingkat ketersinggungan’ seseorang. Apalagi seorang pemimpin. Harus menjadi orang yang sangat terbuka, menghargai, dan itu tadi, tidak mudah tersinggung.
Saya hanya menghimbau kepada orang-orang yang punya watak mudah tersinggung ini agar tidak menjadi pemimpin dan jangan mencoba untuk menjadi dosen. Watak mudah tersinggung mungkin cocok untuk profesi petinju profesional ala mike tyson atau menjadi badut-badutan! Mudah tersinggung itu watak yang sangat-sangat merugikan orang lain. Dan saran saya terakhir, buatlah kumpulan orang-orang mudah tersinggung, mungkin ini lebih pas (he..he..)
September 6, 2008 at 9:02 am
waaaah saya jadi berpikir, saya mudah tersinggung tidak ya?
salam kenal pak.
September 6, 2008 at 5:57 pm
Ikkyu_san, salam kenal kembali. Rajin-rajin mengunjungi blog saya ya..he..he..Trims.