Obama Indonesia: Perlukah?

Barack Obama secara resmi dinominasikan sebagai Calon Presiden AS dari partai Demokrat. Konvensi Partai Demokrat di AS menarik perhatian dunia. Konvensi tersebut sangat unik karena semua orang terdekat Obama bahkan sebelumnya adalah rival dia dalam memperebutkan kandidat Capres dari Partai Demokrat yaitu Hillary Clinton pun diberikan kesempatan untuk berbicara.

Tahun depan, kita juga akan menentukan siapa Presiden Indonesia selanjutnya. Banyak partai sudah mengelus-elus jagoannya. Koalisi partaipun sudah mulai dilakukan walau dengan cara sembunyi-sembunyi atau agak malu-malu sedikit (he..he..). Itulah politik (katanya). Di media elektronik terutama beberapa TV nasional bermunculan iklan yang mempromosikan salah satu individu yang ‘dibungkus’ aneka ‘tujuan’. Intinya mulai mendeklarasikan sebagai ‘the next President Indonesia’.

Bisa jadi model ‘promosi’ ini baik untuk proses pembelajaran bagi masyarakat. Belajar secara dini tentang calon pemimpinnya. Walaupun baru sebatas apa yang diucapkan di layar kaca dan secara fisik tahu ganteng-cantik nya calon pemimpin mereka (he..he..). Masalah apakah janji-janji akan ditepati atau tidak itu urusan belakangan (he..he..).

Dari sekian banyak orang yang mempromosikan dirinya sebagai calon presiden, sebagian besar adalah orang muda. Ini preseden bagus karena orang muda memang mesti didorong untuk maju. Masyarakat punya banyak alternatif untuk menentukan pilihannya nanti. Kalau dibandingkan dengan proses penentuan Capres dari partai Demokrat di AS, Barack Obama pun sebelumnya berada di tengah-tengah seniornya. Tapi akhirnya berhasil menjadi pilihan partai Demokrat. Pertanyaannya adalah perlukah Obama versi Indonesia?

Orang-orang muda yang muncul di TV dan ‘mendeklarasikan’ dirinya sebagai pilihan alternatif calon Presiden Indonesia bisa jadi karena fenomena Obama. Dan terbukti Obama terpilih, ini memberikan semangat berlipat kepada orang muda tersebut untuk maju terus. Kenapa tidak? Masalahnya adalah apakah itu memungkinkan di Indonesia? Tahap awal yang mesti dilalui adalah orang muda tersebut mesti menjadi pilihan salah satu partai untuk dijadikan calon Presiden tentunya dengan beberapa syarat. Jika tidak melalui partai, gunakan jalur independen. Yang jelas, kesempatan itu tetap ada.

Kembali ke judul tulisan ini. Saat ini memang sangat disyukuri muncul beberapa Obama Indonesia. Saya sebut Obama Indonesia karena terminologi itu muncul akibat sepak terjang Barack Obama. Mungkin lebih tepat dibilang euforia Obama. Wajar. Tapi yang perlu diingat adalah bukan karena Obama orang muda, tapi lebih dari sosok seorang Obama. Kita sudah tahu sosok para pemimpin masa lalu bahkan sosok seorang SBY. Kita butuh sosok baru yang masih segar, bersemangat, punya idealisme dan memang sosok alternatif (maksa..he..he..).

One Response to “Obama Indonesia: Perlukah?”

  1. Wahyu Says:

    Kayaknya siieh tak mauuungkinlah untuk Indonesia. sekali rival politik dan kalah bersaing maka idealismenya adalah menjadi oposisi…. gitu. Kalau ada Rival pemilihan Presiden di RI dan berakhir menjadi sahabat dalam membangun Negara ini, duh syukurnya kita semua ! Kita memang perlu belajar dari Amerika…. ndak usah munafiklah. Kenapa karena Paman Sam sering membantu Ibu Pertiwi. Tapi Paman Abdullah …Ehmmmmm…


Leave a Reply