Rekan usviany meminta kiat-kiat untuk menghadapi para senior atau generasi tua. Untuk itu saya menguraikan kiat-kiat dalam bentuk tips simpel. Disini mungkin perlu ditekankan bahwa bisa jadi banyak juga generasi tua atau para senior yang punya pemikiran segar dan patut ditiru. Tapi tetap fokus utama dari tips ini adalah untuk menghadapi para senior yang kaku, kolot dan tidak berpikiran ke depan.
Tips yang diuraikan berikut berdasarkan pengalaman penulis menjalani masa studi di Indonesia, luar negeri dan juga pengalaman kerja selama ini. Mudah-mudahan bisa membantu, terutama agar generasi muda jangan sampai marah besar yang tidak terkontrol (he..he..).
Syarat utama agar bisa melaksanakan tips adalah kita mesti punya kekuatan atau modal dasar seperti intelektualitas tinggi dan kinerja yang tinggi (prestasi kerja). Kalau di perguruan tinggi, kekuatan atau modal dasar yang tidak terbantahkan yaitu telah mencapai strata pendidikan tertinggi. Ketegasan berbicara dan kecerdasan dalam bertutur kata juga merupakan kekuatan yang amat dashyat (he..he..). Jika modal-modal ini sudah kita punya baru kemudian menerapkan beberapa kiat sebagai berikut;
-Jangan sekali-kali memposisikan diri sebagai the follower. The follower sama sekali tidak punya pendirian dan tidak berkarakter. Ini biasanya dilakukan oleh para yunior yang sama sekali tidak punya bargaining position, biasanya orangnya tidak aktif. Dan walaupun aktif bisa jadi karakter orang ini memang dominan berperilaku sebagai pengikut.
-Berikan kontribusi terhadap komunitas tempat kita beraktifitas. Kontribusi yang bisa mempromosikan komunitas kita kepada orang atau komunitas lain seperti kegiatan ilmiah (di perguruan tinggi). Kontribusi ini tentu saja dikomunikasikan dengan para senior ini. Yang jelas ide berasal dari kita. Lakukan ini secara reguler.
-Saat diskusi atau mengikuti meeting bersifat formal maupun informal posisikan kita sebagai pendengar yang baik. Jangan sekali-kali menyela pembicaraan orang. Dan ketika kita dipersilakan untuk menyampaikan pendapat, gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Kesempatan ini sangat baik untuk menyampaikan ide-ide yang sudah kita pikirkan;
-Saat penyampaian ide-ide tersebut, yakini bahwa ide itu orisinil. Ide yang tidak terpikirkan oleh orang lain. Ini sebagai bentuk ketegasan intelektualitas kita yang unik tapi bisa memberikan alternatif;
-Jangan lupa saat penyampaian ide itu dilakukan dengan tutur kata yang sistematik, tegas dan imajinasikan saat itu kita sebagai nara sumber yang dibutuhkan oleh komunitas;
-Jangan lupa, kita mesti ramah dengan komunitas kita sendiri. Ramah yang natural, tidak dibuat-buat. Ini untuk menunjukkan bahwa kita bisa bekerjasama dengan siapapun dalam komunitas itu;
-Segera minta maaf jika apa yang kita perbuat kurang atau tidak berkenan (biasanya muncul perasaan bersalah);
-Respon segera pesan, telpon atau permintaan dari para senior karena ini menunjukkan rasa hormat kita kepada beliau-beliau ini, terlepas dari apakah kita bisa membantunya atau tidak;
-Selalu komunikasikan apa yang sudah, sedang dan akan kita lakukan (aktifitas) baik saat tatap muka atau lewat email/sms
Saya pikir tips ini sesuatu yang bisa mudah bahkan bisa jadi sangat sulit untuk direalisasikan. Tapi bisa kita coba mulai dari yang paling mudah dulu. Mungkin beberapa bersifat normatif dan klise (he..he..), tapi tips ini manjur sekali lho (he..he..). Bagaimanapun juga para senior adalah pendahulu kita, mereka ada dan lahir lebih dulu dari kita. Tapi anyway jangan sampai generasi muda marah besar….(he..he..)
August 8, 2008 at 2:16 am
Terimakasih atas tips-nya…intinya memang harus punya “modal dasar” dulu ya untuk menghadapi generasi tua yang kolot
August 8, 2008 at 7:49 am
yang tidak kalah penting untuk generasi tua harus di kasih “tips” he2x…
August 8, 2008 at 8:37 am
betul tuh, nanti akan ada tips untuk generasi tua menghadapi generasi mudah … hehehe…
August 8, 2008 at 8:58 am
ha..ha..ha..betul pak hendra…jangan dibocorin dulu dong..he..he..
August 8, 2008 at 9:02 am
ha..ha..ha..itu lain lagi ceritanya kang soni…aya-aya wae…he..he..