Pernah naik kereta rute Bandung-Jakarta? Pasti banyak suka-dukanya, dan dipastikan frekuensi dukanya jauh lebih banyak dibanding sukanya (sama-sama tahulah..he..he). Tapi itulah kondisi perkeretaapian Indonesia. Mau apalagi? Sebelum tol Bandung-Jakarta selesai, moda transport kereta api menjadi primadona. Bahkan saking merasa diperlukan sehari bisa menjadwalkan puluhan keberangkatan Bandung-Jakarta. Penumpang tumpah ruah, bahkan saking penuhnya banyak juga penumpang beralih ke travel tidak resmi yang mangkal di depan stasion.
Tapi ceritanya lain setelah tol Cipularang dibuka. Travel menjamur dan kebanyakan orang memakai mobil pribadi untuk bepergian pulang pergi ke Bandung atau ke Jakarta. Dan ini memberikan pukulan telak terhadap moda kereta api Bandung-Jakarta, baik kereta Parahyangan maupun Argo Gede nya. Saya pernah mengalami suka-duka saat-saat kereta Bandung-Jakarta lagi booming (sebelum tol Cipularang berfungsi). Yang jelas banyak dukanya (he..he..).
Saat kereta Bandung-Jakarta laris manis, penumpang benar-benar menjadi obyek penderita. Masih teringat jadwal kereta yang penuh, hampir setiap jam ada keberangkatan apalagi saat pagi subuh hari senin, wah kalau tidak pesan sejak awal, kita tidak bakal dapat tempat duduk. Hal yang lebih parah terjadi saat weekend. Jika kondisinya tempat duduk sudah habis, maka tiket berdiri tetap dijual dengan harga yang sama dengan tiket duduk. Duduk atau tidak duduk, sama saja. Duh pegelnya…
Sebenarnya apa sih sukanya naik kereta? Yang pertama: bisa tidur lebih pulas dibanding naik travel atau bahkan bis sekalipun. Bisa ke toilet setiap saat (he..he..). Dan bisa menikmati pemandangan pegunungan yang indah dan menyejukkan. Sukanya itu saja! Dukanya? Sangat banyak, dan yang paling mendebarkan adalah ketika kereta tiba-tiba mogok dan tidak ada solusi sama sekali dari pihak awak kereta. Biasanya mereka akan bilang “Maaf bapak-ibu, ada kerusakan, 15 menit lagi selesai diperbaiki” itupun mengucapkannya dengan mimik yang tidak bersahabat. Atau alasan lain yang gak bakalan ketahuan sama penumpang.
Pernah kereta mogok di dekat Purwakarta sana (ke Bandung). Gak ada pemberitahuan sama sekali kenapa kereta berhenti. Akhirnya jadi tahu dari penumpang lainnya. Dan pramugari sempat lewat dan mengatakan bahwa kereta mogok, sedang ditelpon agar ada kereta dari Bandung sebagai pengganti. Saat itu saya dan beberapa penumpang berinisiatif untuk turun kereta dan menyewa satu mobil untuk 7 orang. Tidak lagi memikirkan rugi karena ongkos keluar lagi. Rasanya peristiwa ini yang paling membuat saya kecewa dengan kereta api Indonesia.
Informasi terakhir, jadwal kereta Bandung-Jakarta diubah sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi peristiwa keterlambatan keberangkatan dan kedatangan akibat kereta mogok, tanah longsor, gerbong anjlok dlsbnya. Lumayan punya niat dan rencana bagus (he..he..). Tapi memang pihak manajemen mesti lebih mengutamakan kepastian keberangkatan dan kedatangan yang tepat waktu. Pelayanan penumpang nomor sekianlah. Prioritas utama adalah jaminan tepat waktu tadi. Jika ini dapat dijaga, saya yakin penumpang akan berbondong-bondong lagi untuk menggunakan jasa moda transportasi ini. Semoga.
October 15, 2009 at 11:53 pm
saya sharing juga sedikit pengalaman naik kereta jakarta bandung yah…
kereta api parahyangan jakarta bandung adai di blog k-4-s.info
jadi mengingat masa lalu