Penumpang adalah raja! Ungkapan ini tidak mengada-ada kok. Memang demikian adanya. Kita sebagai penumpang sejati angkot harus bersyukur dengan ini. Kenapa bak raja? Kalau kita tidak merasakan status istimewa ini berarti kita belum bisa dikategorikan penumpang sejati angkot.
Coba anda perhatikan dan rasakan dari lubuk hati yang paling dalam. Ketika kita akan menumpang angkot, maka kita punya hak tak terbatas untuk memilih angkot mana yang akan kita tumpangi. Supir angkot tidak punya hak untuk memaksa penumpangnya secara paksa agar naik ke angkotnya. Jadi, sebenarnya angkot itu sangat mengakomodasi dan menghormati hak azazi penumpang angkot.
Biasanya kita akan memilih angkot yang penumpangnya masih sedikit. Memilih angkot yang bersih, kendaraannya keluaran baru, cat masih mengkilap dan ban masih mulus. Atau memilih angkot setidak-tidaknya wajah supirnya bukan bertipe keras (baca: tipe kotak-kotak). Rambut rapi dengan pakaian rapi juga dan tidak merokok. Memang susah menemukan raut muka supir yang sejuk dan tidak merokok. Apalagi jaman edan sekarang. Bagaimanapun juga penumpang mesti menentukan pilihannya yang terbaik.
Intinya adalah hak penumpang untuk memilih angkot yang ingin dinaiki benar-benar terjamin. Berbahagialah hei penumpang sejati angkot…
May 14, 2008 at 6:47 am
Wah, kalau pilih-pilih angkot kriterianya terlalu tinggi bisa-bisa kita nggak dapat angkot Pak, kadang kalau angkot agak penuh lalu kita nggak mau naik supirnya berani neriakin, “naik mobil pribadi aja !” … Jadi kayaknya prinsip saling membutuhkan yg perlu dikedepankan.
May 14, 2008 at 7:45 am
he..he..pak hendra serius banget. trims pak komentarnya.
May 15, 2008 at 5:55 am
tergantung, pak ketut. Kalo kita di terminal (baru turun dari bis luar kota). Kita pasti dipaksa utk naik angkot (yg jurusannya memang kita tuju). Atau stasion. atau tempat pemberhentian angkot. Kita memang bisa nolak, tp repotnya 2x lipat (karena bawa barang bawaan) belum termasuk diteriak, “naik taxi aja, pak! kalo mau enak”.