Studi batas wilayah darat dengan Inderaja

Pemetaan batas wilayah darat memiliki beberapa aspek yang harus dimengerti baik oleh para pengambil keputusan di daerah, maupun oleh para pelaku pemetaan itu sendiri. Aspek-aspek ini adalah aspek penentuan, aspek pengukuran, dan aspek pemetaan. Dalam sebuah tinjauan yang komprehensif, aspek penentuan ternyata memiliki beberapa cara (alami, perjanjian, hierarkis), sebagaimana aspek pengukuran (kartometris, fotogrametris, inderaja, terestris). Dan dalam masalah pemetaan, batas wilayah darat memiliki hal-hal seharusnya penting untuk ditampilkan, seperti misalnya soal akurasi dan sumber penetapannya.

Dengan diberlakukannya undang-undang No.22/1999 tentang pemerintahan daerah, yang membagi wilayah negara kedalam daerah besar yang disebut propinsi dan daerah kecil yang disebut dengan daerah kabupaten atau daerah kota, maka daerah (propinsi, kabupaten, dan kota) mempunyai wewenang yang relatif lebih luas dalam pengelolaan sumber daya alam. Oleh karena itu penentuan batas wilayah menjadi sangat penting, sebab dengan jelasnya batas wilayah antar daerah maka tiap daerah akan dapat memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

Dalam menghadapi otonomi daerah dan globalisasi, penentuan batas wilayah (batas administrasi), baik antar tinggi, persil tanah, batas konsesi HPH, atau hak pertambangan, batas antar kabupaten /kota, batas kewenangan di laut maupun batas negara menjadi strategis, dan harus dikerjakan dengan mutu. Tujuan penentuan batas wilayah darat ini adalah untuk mengetahui sejauh mana batas spasial suatu status hukum, mulai dari kepemilikan, hak guna, batas peruntukan dalam tata ruang, tanggung jawab pemerintahan, perpajakan, hingga untuk menentukan luas area guna menghitung potensi sumber daya, kepadatan penduduk  hingga dana perimbangan daerah.

Kegiatan penentuan batas wilayah terdiri atas dua tahap yaitu tahap penetapan dan tahap penegasan. Penetapan batas daerah di darat adalah proses penetapan batas daerah secara kartometrik diatas suatu peta dasar yang sudah disepakati (buku pedoman dan penegasan batas daerah). Sedangkan penegasan batas daerah didarat adalah proses penegasan batas daerah secara langsung di lapangan dengan memasang pilar-pilar batas.

Banyak cara dalam menentukan batas wilayah darat, diantaranya dengan melakukan pengukuran terestris, pengukuran fotogrametris, pengukuran melalui citra satelit inderaja, ataupun secara kartometris. Pada studi ini akan dikaji lebih lanjut tentang metode penentuan batas wilayah darat dengan melakukan pengukuran melalui citra satelit multisensor.

 Perkembangan teknologi inderaja dalam perekaman datanya memungkinkan penyediaan data dalam bentuk digital. Hal ini mengakibatkan perkembangan dan penggunaan proses pengolahan citra secara digital semakin banyak digunakan karena waktu pemrosesan menjadi lebih cepat dan memungkinkan pemanfaatan data yang lebih luas. Perkembangan teknologi inderaja kini semakin pesat. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan kemampuan satelit penginderaan jauh dalam hal resolusi temporal, resolusi spektral dan juga resolusi spasial. Dengan demikian kegunaan akan teknologi tersebut juga semakin meluas.

Dalam studi ini dikaji apakah citra satelit multisensor dapat digunakan untuk kegiatan penentuan batas wilayah darat sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat pada undang-undang yang berlaku dan pedoman penetapan dan penegasan batas daerah.

Sekilas tentang Tsunami

Istilah “tsunami” diadopsi dari bahasa Jepang, dari kata tsu  yang berarti pelabuhan dan nami yang berarti ombak. Dahulu kala, setelah tsunami terjadi, orang-orang Jepang akan segera menuju pelabuhan untuk menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan akibat tsunami, sejak itulah dipakai istilah tsunami yang bermakna “gelombang pelabuhan”.

Secara ilmiah tsunami merupakan gelombang panjang yang timbul karena adanya perubahan dasar laut atau perubahan badan air yang terjadi secara tiba-tiba dan impulsif, akibat gempa bumi, erupsi vulkanik, longsoran bawah laut, atau runtuhan gunung es bahkan akibat terjangan benda-benda angkasa ke permukaan laut.

Selain itu, dalam istilah bahasa Inggris, tsunami juga seringkali dikenal sebagai tidal wave atau gelombang pasang. Lebih lanjut lagi, tsunami diklasifikasikan sebagai gelombang panjang, karena panjang gelombangnya mencapai beberapa ratus kilometer dengan amplitudo gelombang yang kecil yaitu sekitar satu meteran di perairan dalam, sehingga sangat sulit untuk dideteksi dari udara atau dari atas kapal.

Menurut Prof. Yoshiaki Kawata, Kepala Pusat Penelitian Bencana Besar, Institut Penelitian Mitigasi Bencana, Universitas Kyoto, Jepang, terjadinya tsunami disebabkan oleh pergerakan air dalam volume besar secara vertikal. Pergerakan tersebut disebabkan oleh tiga hal, yaitu:

1.      Gempa dengan patahan vertikal, baik patahan naik maupun turun (lebih dari beberapa meter secara mendadak dan vertikal) terjadi di laut dengan kedalaman mencapai ribuan meter. Dimana secara empirik, jika gempanya berkekuatan lebih dari 6,5 Skala Richter (SR), dan pusat gempa berada pada kedalaman kurang dari 60 km dari dasar laut, maka tsunami akan terjadi.

2.      Longsor besar yang disebabkan oleh gempa, kegiatan gunung berapi, atau longsor di dasar laut.

3.      Letusan gunung berapi, dimana setidaknya ada 10 proses yang menimbulkan tsunami meliputi aliran pyroclastic, gempa disertai erupsi vulkanik, longsoran dan avalanches dari batuan beku, ledakan bawah laut, terbentuknya kaldera, dorongan basal yang disertai dengan gelombang kejut, avalanches dari batuan panas, lahar, gelombang udara yang berasosiasi dengan ledakan besar serta aliran lava.

Fenomena Kawasan Pesisir

Definisi kawasan pesisir dari pendekatan ekologis adalah daerah pertemuan darat dan laut, dengan batas ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih mendapat pengaruh sifat laut seperti angin laut, pasang surut dan intrusi air laut; sedangkan batas ke arah laut mencakup bagian perairan pantai sampai batas terluar dari paparan benua yang masih dipengaruhi oleh proses alamiah yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar serta proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia, misalnya penggundulan hutan, pencemaran industri/domestik, limbah tambak, atau penangkapan ikan. Jika dilihat dari pendekatan administrasi, kawasan pesisir adalah kawasan yang secara administrasi pemerintahan mempunyai batas terluar sebelah hulu dari kecamatan atau kabupaten atau kota dan ke arah laut sejauh 12 mil dari garis pantai untuk propinsi atau sepertiganya untuk kabupaten atau kota (Dahuri, et.al., 2001).

 Jadi pada dasarnya garis batas kawasan pesisir hanyalah merupakan garis khayal yang letaknya dipengaruhi kondisi setempat dan secara konstan berubah karena proses natural yang sangat dinamis (Kay dan Alder, 1999). Di kawasan pesisir yang landai dengan sungai besar, garis batas dapat berada jauh dari garis pantai, sedangkan di pantai yang curam dan langsung berbatasan dengan laut dalam, kawasan pesisirnya sempit (Supriharyono, 2002). Untuk kepentingan pengelolaan, penetapan batas fisik kawasan pesisir didasarkan pada tujuan pengelolaan dan faktor yang mempengaruhi pemanfaatan sumber daya. Jika pengelolaan bertujuan untuk menurunkan tingkat pencemaran perairan pesisir atau untuk mengendalikan laju sedimentasi, maka batas ke arah darat hendaknya mencakup suatu daratan Daerah Aliran Sungai (DAS) sedangkan ke arah laut meliputi area yang masih dipengaruhi oleh pencemaran yang berasal dari darat yang terbawa oleh aliran sungai tersebut. Batas seperti ini sama dengan yang digunakan oleh United States Coastal Management Act dan California sejak tahun 1976 (Kay dan Alder, 1999).

Betapa pentingnya pemahaman terhadap kawasan pesisir untuk mengantisipasi kerusakan land use/land cover yang semakin parah. Banyak penelitian yang secara konsisten fokus meneliti fenomena kawasan pesisir sebagai wilayah yang strategis tetapi juga teramat sensitif. Dan teknologi penginderaan jauh dan SIG sangat membantu dalam memahami proses perubahan yang terjadi di kawasan pesisir tersebut.

Wetland Mapping

Ada banyak definisi tentang lahan basah, dari definisi-definisi yang ada tersebut dapat disimpulkan secara umum bahwa lahan basah adalah suatu suatu wilayah yang tergenang air, baik alami maupun buatan, tetap atau sementara, mengalir atau tergenang, tawar asin atau payau. Ada tiga indikator yang menjadi ciri suatu wilayah merupakan lahan basah yaitu keberadaan air, hydric soil, dan tumbuhan air. Luas lahan basah di suatu daerah akan mempengaruhi ekosistem wilayah tersebut. Oleh karena itu adalah sangat penting keberdaan data luas lahan basah di tiap daerah. Telah disebutkan diatas bahwa pada intinya suatu lahan digolongkan kedalam lahan basah bila mengandung air atau terendam air, sedemikian hingga dalam periode tersebut tanah menjadi bersifat anaerob. Hal ini berimplikasi bahwa pada musim hujan lahan basah akan lebih luas dibandingkan lahan basah pada musim kemarau. Selain itu perubahan tata guna tanah juga menyebabkan perubahan luas lahan basah. Sehingga perlu diidentifikasi perubahan luas lahan basah sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam melakukan penataan suatu wilayah.

Daerah Bandung sabagai daerah dengan curah hujan yang cukup tinggi dan memiliki daerah pertanian yang cukup luas tentu saja memiliki lahan basah yang cukup luas. Sebagian besar lahan basah yang ada di daerah Bandung adalah berupa daerah pertanian. Akan tetapi perkembangan pembangunan telah menyebabkan terjadinya perubahan  penggunaan lahan, dalam hal ini lahan basah menjadi daerah industri, seperti yang terjadi di daerah  Rancaekek . Hal ini menyebabkan perubahan-perubahan dalam lingkungan Bandung salah satunya adalah berkurangnnya daerah resapan air. Hilangnya lahan basah mengakibatkan turunnya sumber perikanan dan keanekaragaman hayati secara drastis; meningkatnya banjir serta timbulnya kekeringan juga mengakibatkan erosi di daerah pinggiran sungai. Perubahan lingkungan tersebut memberi dampak yang merugikan bagi masyarakat. Oleh karena itu dipelukan inventarisasi luas lahan basah yang ada di Bandung ini supaya perubahan luas lahan basah tersebut bisa dipantau. Teknologi penginderaan jauh melalui citra satelit dapat dipakai untuk melakukan pemetaan lahan basah di suatu daerah.

Profesor Termuda Dunia

Alia Sabur, “remaja” dari New York, Amerika Serikat, diangkat sebagai Profesor di Konkuk University, Korea Selatan, pada umur 19 tahun! Fantastik ! Coba bayangkan, dia lulus sarjana (S1) pada umur 14 tahun, kemudian mengambil S2 dan S3, berumur 19 tahun Februari 2008 tepat saat pengangkatannya sebagai guru besar. Tercatatlah perempuan muda ini sebagai profesor termuda di dunia setelah murid Isaac Newton tahun 1717. Luar biasa!

Adalah sangat bagus jika gelar profesor dapat disandang saat usia muda, apalagi berumur 19 tahun!  Kemungkinan, gelar profesor di Indonesia dicapai di atas umur 50 tahunan. Bahkan ada yang menerimanya setelah berumur lebih dari 55 tahun! Jumlah profesor di suatu perguruan tinggi sering dijadikan indikator berkualitas-tidaknya perguruan tinggi bersangkutan. Dan inipun menjadi salah satu parameter dalam pemeringkatan suatu universitas di dunia.

Bagaimana dengan keprofesoran di Indonesia? Bisa dikatakan sebagai proses yang sangat rumit, dan bahkan sangat kental dengan aspek ”like-dislike”. Proses penilaiannya sangat panjang, baik di internal perguruan tinggi bersangkutan, maupun di Departemen Pendidikan Nasional (DIknas) itu sendiri. Gelar profesor sebenarnya gelar ‘biasa’ tapi punya tanggungjawab moral yang besar bagi yang telah menerimanya. Sangat ironis jika yang telah bergelar profesor ternyata dalam kesehariannya tidak pernah melakukan apa-apa lagi! Dan inipun berkorelasi kuat jika usia penerima gelar profesor di atas usia 50 tahun. Hal ini akan terjadi terus menerus jika ‘model’ keprofesoran di Indonesia tetap seperti sekarang. Anyway, Indonesia butuh ribuan profesor. Tapi profesor berkualitas! Amin.

BILKO, freeware mudah dipahami

United Nation Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) punya program pendidikan dan pelatihan penginderaan jauh pada bidang kelautan yang disebut Training and Education in Marine Science Programme (TREDMAR). Program ini bertujuan membuat suatu perangkat lunak pengolahan citra dengan biaya yang murah dan memberikan fasilitas pengkajian permasalahan oseanografi berdasarkan citra. BILKO merupakan perangkat lunak pengolahan citra yang dihasilkan dari program TREDMAR. BILKO berorientasi pengguna (user friendly) untuk melakukan pengolahan citra digital. Salah satu  hal yang paling menarik dari perangkat lunak ini adalah freeware sehingga dapat mengantisipasi harga perangkat lunak komersial yang mahal, selain itu disertai dengan modul aplikasi yang sesuai untuk melakukan kajian citra daerah laut dan wilayah pesisir. Oleh karena itu, BILKO dapat digunakan untuk aplikasi-aplikasi yang berhubungan dengan pengkajian kelautan dan wilayah pesisir. Wilayah Indonesia sebagian besar  merupakan lautan dan wilayah pesisir.  Hal ini memberikan berbagai keuntungan yang penting bagi perekonomian masyarakat. Ekosistem pesisir seperti estuari, pantai dan perairan dekat pantai merupakan sumberdaya yang penting karena produktivitas biologisnya sangat tinggi. Hal ini disebabkan perairan tersebut merupakan habitat dari berbagai tanaman dan binatang. Pada saat ini keadaan laut dan wilayah pesisir telah mengalami kerusakan. Kerusakan lingkungan tersebut dapat mengakibatkan kemusnahan kelestarian sumber daya alam, termasuk sumber daya alam yang dapat pulih. Penyebab kerusakan tersebut antara lain oleh pencemaran, degradasi fisik, ekploitasi sumber daya alam yang berlebihan, abrasi pantai, penyalahgunaan kawasan lindung pesisir, dan bencana alam. Berdasarkan uraian di atas, tentu saja diperlukan suatu pengakajian permasalahan kelautan dan wilayah pesisir secara terpadu pada berbagai aspek baik aspek geodetik maupun aspek biologis. Penginderaan jauh merupakan teknik yang harus dikaji peranannya pada masalah tersebut. BILKO-UNESCO memberikan support yang besar pada pengkajian ini dengan modul aplikasinya untuk kelautan dan wilayah pesisir di Indonesia. Segera tinggalkan penggunaan software bajakan kapanpun dan dimanapun.

Deteksi Pencemaran Air

Persoalan pencemaran air yang digunakan untuk irigasi lahan pertanian terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.  Kebanyakan diantaranya merupakan pencemaran air akibat limbah industri.  Fenomena tersebut juga terjadi di wilayah Kabupaten Bandung & sekitarnya, yakni di daerah Nanjung, Cimahi dan Cicalengka, Rancaekek.  Keduanya terletak di dekat pabrik tekstil besar yang limbah industrinya dibuang ke sungai yang digunakan untuk pengairan persawahan di kedua daerah tersebut. Pemantauan terjadinya penurunan kualitas air menggunakan uji laboratorium bersifat diskrit dan memakan waktu dan biaya karena mencakup berbagai parameter yang harus diteliti. Penggunaan citra satelit untuk pemantauan kualitas air dapat memberikan hasil yang baik jika didukung oleh data pelengkap yang baik.  Selain bersifat kontinyu karena mencakup area yang luas, citra satelit dapat dioverlay dengan peta landuse (area persawahan, area industri, dan sungai), sehingga dapat dibentuk sistem informasi geografis yang mampu menganalisis area sawah yang berpotensi terkontaminasi limbah industri dengan data pelengkap seperti : debit air, laju air dan lain-lain. Topik ini sangat menarik dan merupakan tantangan bagi profesi geomatika dan ahli lingkungan. Ada yang mau berkolaborasi ?

Artis VS Parpol

Setelah kemenangan Rano “Si Doel” Karno dan Dede “Bodrex” Yusuf dalam memperebutkan jabatan penguasa di tingkat kabupaten dan provinsi, rupanya menjadi “inspirasi” artis lainnya untuk ikut meramaikan bursa pilkada lainnya. Syaiful “Persik” Jamil, Dyah “Oneng” Pitaloka termasuk Robby “Kang” Darwis tertarik dan berpikir bahkan ada yang sudah digaet partai politik untuk terjun dalam pilkada. Dilain pihak banyak partai politik tergiur dengan penampilan artis yang mendulang suara terbanyak yang pada akhirnya berhasil memenangi pilkada. Ternyata R & D partai pusing tujuh keliling dengan analisa-analisanya selama ini. Artis menjadi pilihan alternatif. Dan artispun “kebanjiran” job, selain menyanyi dan menjadi bintang sinetron atau TV, sekaligus punya peluang “karir” dalam birokrasi.
Artis ternyata serba bisa. Bisa nyanyi sekaligus nyambi jadi pemain sinetron. Mungkin terinspirasi oleh kegagahan Ronald Reagan menjadi Presiden Amerika. Atau penasaran dengan terpilihnya Arnold “Terminator” Schwarzerneger (?) menjadi Gubernur California.
Fenomena yang sangat menarik. Sebegitu susahnya mencari pemimpin yang tepat dan pas di negeri ini (?). Atau ini hanya sebuah fenomena sementara karena kejenuhan masyarakat oleh janji-janji palsu pemimpin sebelumnya? Kalau artis gak kepilih jadi bupati, wali kota, wakil bupati, gubernur bahkan presiden, maka statusnya tetap sebagai artis. Tapi masalahnya adalah ketika artis tersebut terpilih? Silakan anda berpikir, kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa terjadi. Kemungkinan buruknya apa dan kemungkinan baiknya seperti apa.

Anak-anak Indonesia

Sekali-kali coba datang ke sekolah dasar, taman kanak-kanak, atau arena bermain (playgroup) di sekitar tempat tinggal anda. (Bayangkan saja dulu), betapa cerianya anak-anak yang lucu dan ngegemesin bermain-main di halaman, taman, beranda. Ada yang saling kejar, main bola, main petak umpet. Bahkan ada yang panjat pohon melihat telor burung di sarangnya. Suasana itu seperti gambaran sehelai sampul majalah anak-anak yang penuh warna. Ini bayangan indah sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Tapi apakah sekolah dasar, TK dan playgroup seperti seindah yang kita bayangkan?

Mungkin anda pernah mengalaminya pada masa lalu. Tapi tidak sedikit pula yang tidak pernah mencicipi betapa indahnya masa sekolah pra TK, TK dan SD di Indonesia. Yang namanya pra TK, TK dan SD, istilah Diknasnya pendidikan dasar (?), sangat penting. Karakter generasi muda tergantung pada periode ini. Jika sistem pendidikan nya ngaco, salah arah dan tidak sistematis, maka generasi yang dicetak kira-kira bisa kita reka-reka lah.

Apa sih fungsi pra TK, TK dan SD itu? Apakah hanya tempat bermain, tempat ngalor ngidul, ngegosip bagi anak-anak kita? Bahkan tempat ngumpulnya orang tua, supir, pembantu, tukang jualan dan arisan ? Tidak bukan ? Banyak fenomena aneh yang terjadi pada pendidikan dasar ini. Contoh: ada sekolah dasar yang setiapharinya murid-murid dijejali PR lah, tugas, ulangan lah, setiap hari datang ke sekolah jam 7 sampai jam 1 siang, bahkan sampai sore hari! Terus kapan anak-anak itu bisa menikmati hari-harinya dengan segala impian dan kreatifitasnya? Pernah saya lihat, ketika kelas sudah berakhir dan anak-anak sudah ditunggu orang tuanya, orang tua tersebut langsung tanya dapet ulangan berapa? Coba mama liat ulangannya, kamu harus belajar lebih giat lagi ya, hardik mamanya karena tau ulangan anaknya tidak bagus. Wah, belum juga anaknya bernafas lega karena seharian mengikuti kegiatan sekolah, eh malah sudah mendapatkan ‘hadiah’ dari orang tuanya. Ironisnya, jaman sekarang, banyak orangtua yang ikut sibuk mencarikan soal-soal ujian untuk anaknya. Selain itu anak-anaknya dijejali kursus itulah, inilah, wah kok kayaknya anak-anak Indonesia itu lebih sibuk dibanding Bill Gates ya, si kaya raya pemilik Microsoft.

Betapa susahnya mengurus pendidikan anak-anak ini? Atau sebenarnya tidak susah, melainkan kita saja yang ingin agar generasi mendatang bersusah-susah terlebih dahulu, merasakan betapa pahitnya hidup, betapa kejamnya hidup untuk kemudian menjadi terbiasa dengan betapa susahnya hidup itu ?

Jalan Bolong

Kalau ada pertanyaan, musim apakah saat musim hujan ? Jawaban nya pasti macem-macem dan cendrung jawaban yang berkaitan dengan jenis buah-buahan. Ada jawaban lain yang jarang terpikirkan oleh kita yaitu “musim jalan bolong”. Iya, banyak jalan bolong dengan ukuran diameter 10 cm bahkan sampai hampir 1 meter ! Bahkan lubang-lubang menganga itu bukan saja ada di jalan kampung-kampung tetapi juga jalan-jalan protokol ibukota. Luar biasa! Pertanyaan nya adalah, kenapa jalan itu sampe bolong? Jawaban pertanyaan ini juga bisa macem-macem. Ada yang bilang karena bahan jalan yang tidak memenuhi bestek, hujan yang lama akibatnya jalanan tergenang air, bahkan bisa jadi ada yang jawab karena ada yang mau tanam pisang di badan jalan!

Ok, apapun jawabannya yang penting adalah bagaimana agar pengguna jalan bisa terhindar akibat lubang-lubang mengerikan itu ? Inipun susah dijawab! Kalau jalan kampung, ya, diperbaiki saja sama orang kampungnya. Kalau jalan di dekat rumah, ya, tutup aja sama warga setempat. Gimana kalo di jalan umum dan protokol ? Biasanya kalo sudah begini, banyak yang lempar batu sembunyi tangan.

Coba hitung, ada jutaan kendaraan bermotor! Mulai dari roda dua, roda tiga, roda tiga setengah, roda empat, roda enam, sepuluh bahkan kendaraan yang tanpa roda. Berapa triliun pajak yang diterima dari kendaraan aneka jenis ini? Coba hitung yang lain. Setiap sudut jalan dipastikan ada parkir! Tidak hanya sudut jalan, bahkan badan jalan dan trotoarpun pun dimanfaatkan pula! Berapa ratus milyar rupiah uang parkir yang diraup dari bisnis ini?

Ok, diasumsikan semua uang yang masuk dari pajak bermotor dan parkir disimpan di suatu tempat. Lalu, bagaimana nasib jalanan berlubang itu? Yah, paling-paling ditambal sana sini, beres sudah!

Anjuran: kalau anda naik sepeda motor, jangan sekali-kali mengikuti kendaraan roda empat (kendaraan besar) dengan posisi di tengah-tengah belakang kendaraan tersebut. Jika ada lubang yang menganga yang muncul tiba-tiba, maka dipastikan anda akan celaka! Sangat susah unuk menghindari lubang tersebut. Jangankan anda, Valentino Rossi pun belum tentu mampu! Jadi solusinya adalah ambil bagian sisi kiri atau sisi kanan belakang kendaraan yang kita ikuti. Kenapa sisi kiri atau kanan? Silakan dicoba sendiri.