PEMANTAUAN PENGARUH DINAMIKA PANTAI TERHADAP GARIS PANGKAL DALAM PENETAPAN BATAS WILAYAH

Seorang naturalis Amerika Wiliam Beebe  menulis ungkapan [Komar, 1998]: “ Beach is the battle ground of shore. Interaksi ekosistem lautan dan daratan disekitar pantai menyebabkan bentukan  alami pantai terus menerus mengalami perubahan hingga mencapai kesetimbangan dinamis (dinamic equilibrium). Wilayah pantai yang dinamis dalam pengelolaannya  menuntut ketersediaan data yang mampu mengikuti kedinamisan  wilayah ini [Sudyatmiko, 1999]. Fenomena perubahan bentukan pantai tersebut dipengaruhi oleh aspek alam dan kegiatan manusia.   Dalam kegiatan penentuan garis pangkal, fenomena dinamika pantai menjadi pertimbangan penting. Hal tersebut sesuai dengan pasal 7 ayat 2 UNCLOS (United Nation Convention on the Law of the Sea) 1982 tentang Garis pangkal lurus yaitu ”Untuk pantai dengan kondisi alam sangat tidak tetap, titik-titik  tetap dapat dipilih  yang paling jauh menjorok ke laut oleh Negara pantai tersebut”.  Akan tetapi, pasal tersebut tidak secara jelas mengatur permasalahan dinamika pantai. Untuk itu  diperlukan kepastian hukum  mengenai permasalahan dinamika pantai dalam penentuan garis pangkal. Garis pangkal merupakan, pertemuan antara daratan dengan permukaan air rendah. Dinamika pantai dapat mengakibatkan pergeseran garis pangkal baik secara alami maupun akibat perbuatan manusia. Sebagai contoh,  dinamika pantai yang terjadi karena proses sedimentasi dimodelkan oleh Brunn (1962)  Pemantauan dinamika pantai  dari pergeseran garis pantai dapat dilaksanakan secara Terestris, Fotogrametris, dan Penginderaan Jauh [Djunarsjah, 1999]. Penentuan titik pangkal secara Terestris memiliki keterbatasan dalam hal jangkauan pengamatan, metode Fotogrametris memerlukan intepreter yang handal untuk membedakan kenampakan detail garis pangkal [Widiatuti, 2005]  dan meruapakan  metode disarankan  untuk dikembangkan karena informasi  titik-titik pangkal  yang diperoleh secara visual lebih jelas [Badrun,1999]. Untuk Peta Garis Pangkal yang merupakan peta skala kecil dapat digunakan metode penginderaan jauh [Asehat, 1997]. Selain itu, untuk keperluan  pemantauan teknologi penginderaan jauh  dapat memberikan informasi up-to-date, multitemporal dan kontinyu [Mustakim, 2000]. Terkait dengan  penentuan kedudukan garis pangkal, penggunaan citra satelit Landsat ETM memiliki potensi untuk digunakan dalam penentuan batas laut [Hanifa, 2004]. 

Berdasarkan laporan  penelitian BPLHD (Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah) Propinsi Jawa Barat pada tahun 2004 di daerah pantai Selatan Jawa Barat terjadi abrasi. Oleh karena itu, diperlukan pemantauan dinamika pantai yang berkaitan dengan penentuan garis pangkal dengan teknologi penginderaan jauh multitemporal.  [Noufiya, E. Djunarsjah, K. Wikantika]

 

One Response to “PEMANTAUAN PENGARUH DINAMIKA PANTAI TERHADAP GARIS PANGKAL DALAM PENETAPAN BATAS WILAYAH”

  1. farid yuniar Says:

    nanya om, sejauh mana metode-metode di atas sudah dimafaatkan untuk delimitasi dan mungkin deliniasi batas maritim di Indonesia?.

    thx,
    farid – geodesi ugm 2004


Leave a Reply