Geospatial Science and Engineering : New Positioning & The Role…

gg_spectrum1.jpg

Posisi dan peran profesi geodesi dan geomatika saat kini sudah mengalami perubahan yang sangat signifikan dibandingkan era 1970 an sampai 1990 an. Hal ini salah satunya disebabkan oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology, ICT) serta perubahan mendasar dari perangkat keras komputer. Hal lain adalah tumbuhnya kesadaran akan pentingnya pemecahan suatu masalah dengan memanfaatkan data dan informasi geospasial (geospatial awareness) disamping munculnya kesadaran bahwa di Indonesia khususnya, banyak terjadi bencana alam (disaster awareness).

Pada dasarnya kegiatan profesi geodesi dan geomatika terdiri dari pengukuran (measurement), pencitraan (imaging) kemudian diproses (processing) untuk dapat melakukan identifikasi (identification), analisis (analysis), menyajikan (visualization) dan melakukan pemodelan-pemodelan sederhana (modeling). Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi suatu obyek atau fenomena yang ada dibawah permukaan, pada permukaan dan di atas permukaan baik itu di darat, laut, udara bahkan ruang angkasa. Aspek temporal juga menjadi kajian dari kegiatan tersebut baik untuk melakukan monitoring dan evaluasi maupun untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada masa mendatang (forecasting). Cakupan area yang dikaji bisa bersifat lokal, regional maupun global misalkan seperti analisis efek rumah kaca maupun fenomena karbon. Tingkatan kajian lokal, regional dan global berkaitan erat dengan kedetailan data geospasial yang digunakan. Dan ini secara langsung memberikan hasil kajian atau informasi dengan tingkat kedetailan berbeda-beda.

Kebutuhan akan informasi geospasial tidak hanya berupa peta atau bentuk visualisasi lainnya saja melainkan juga dalam bentuk sistem informasi berbasis geospasial (geospatial information system). Bahkan para pengambil keputusan atau penentu kebijakan membutuhkan sistem yang lebih bersifat penentuan rencana-rencana aksi (action plan) yaitu sistem pendukung keputusan berbasis geospasial (geospatial decision support system). Sistem ini pada dasarnya memanfaatkan sistem informasi berbasis geospasial dan mengkombinasikannya dengan sistem lainnya yang bertujuan agar para pengambil keputusan dapat segera menentukan tindakan-tindakan yang perlu diambil dalam memecahkan suatu masalah.

Perubahan paradigma posisi dan peran profesi geodesi dan geomatika berdampak terhadap kebutuhan informasi dan sistem informasi geospasial ke spektrum yang sangat luas. Mulai dari kebutuhan akan pentingnya menjaga keberlangsungan lingkungan (geo-environment), tertatanya sistem infrastruktur terpadu (geosmart-infrastructure), sistem perencanaan berbasis kewilayahan (geo-planning), sistem monitoring keanekaragaman hayati (geo-biodiversity), sistem informasi pertahanan dan keamanan wilayah negara (geo-defence), inovasi produk ICT berbasis geospasial (geo-ICT), bahkan untuk tujuan peningkatan pelayanan kesehatan (GIS-Health), analisis sosial dan ekonomi (geo-socio-economic) dan kajian karakteristik dan penyebaran budaya (geo-culture). Paradigma baru ini menempatkan profesi geodesi dan geomatika menjadi jauh lebih strategis lagi baik dalam perspektif keilmuan dan teknologi maupun bisnis dan industri (Ketut Wikantika)