IP

Coba tebak, apa yang dimaksud dengan judul artikel ini ? Ada yang mengatakan IP adalah internet protocole, jika orangnya familiar dengan dunia teknologi informasi. Dan bagi orang Bandung, IP artinya Istana Plaza salah satu supermarket terkenal di kota tersebut..;-). Tapi disini bukan yang dimaksud oleh kedua arti IP di atas, melainkan Indeks Prestasi, ukuran kualitas seseorang (mahasiswa) dalam melaksanakan proses pendidikan nya di perguruan tinggi. IP sangat menentukan ketika seorang ingin melamar pekerjaan dimana mensyaratkan IP minimal. Dan biasanya perusahaan akan mensyaratkan IP yang cukup tinggi, misal IP minimal 3.0. Persyaratan IP ini mutlak adanya, dan biasanya diminta pada tahap awal seseorang melamar pekerjaan. Jika IP tidak memenuhi syarat, sudah dipastikan orang tersebut tidak bisa mengikuti tahap seleksi selanjutnya. Perusahaan yang mensyaratkan IP minimal tidak akan pernah tahu dan peduli dengan sistem penilaian yang ada di suatu perguruan tinggi. Bisa jadi nilai A di suatu perguruan tinggi akan ‘tidak sama’ dengan nilai A di perguruan tinggi yang lainnya. Memang sangat logis jika perusahaan tersebut tidak mau tahu dengan sistem penilaian tersebut karena diasumsikan sistem penilaian sudah mengacu pada sistem baku penilaian yang ada. Ini tidak berlaku bagi perguruan tinggi. Sudah jelas dan merupakan fakta bahwa nilai A tidak sama ‘bobotnya’ di beberapa perguruan tinggi bahkan ekstrimnya bisa jadi nilai A di perguran tinggi tertentu berbobot nilai C di perguruan tinggi lainnya.

Akhirnya yang menjadi ‘korban’ adalah lulusan atau pelamar pekerja. Rasa ketidakadilan akan muncul disini. Dan ini akan dialami oleh banyak lulusan yang merasa kesempatan dan haknya ‘dirampas’ oleh model penerimaan karyawan yang mensyaratkan IP minimal. Dari sisi perusahaan penerima karyawan, tetap ngotot tidak peduli dengan kondisi tersebut, yang penting IP minimal 3.0, kalau tidak, anda tidak berhak mengikuti tahap selanjutnya, titik. Nah, dari sisi perguruan tinggi lah rasa keadilan tersebut dapat ditumbuhkan. Sistem penilaian mesti dievaluasi kembali. Dan evaluasi ini sangat berkaitan erat dengan ‘mutu’ lulusan yang diinginkan oleh perguruan bersangkutan. Intinya adalah bagaimana sistem penilaian tersebut dapat mengakomodasi persyaratan IP tanpa mengorbankan mutu lulusan. Mungkin mudah diucapkan tetapi sangat sulit untuk dicari solusinya. Bagaimanapun juga, solusi pasti ada.

3 Responses to “IP”

  1. Teman Undip Says:

    Pembicaraan mengenai sistem penilaian di PT dikaitkan dengan dunia kerja sangat menarik. bagaikan mata rantai proses produksi di PT yang meliputi input(calon mahasiswa)—sistem pendidikan termasuk sistem penilaian—output(lulusan) dengan dunia kerja yang saling berkaitan. OK-lah jika dunia kerja menuntut lulusan yang perfect karena memang sudah seharusnya mereka memilih orang-orang terbaik. Jadi kita bicarakan saja realita yang ada di PT. Setiap PT memiliki ukuran penilaian tersendiri untuk mahasiswanya yang mungkin berbeda antara satu PT dengan PT lainnya. jangankan antar PT, di dalam satu PT pun seringkali terjadi perbedaan ukuran penilaian untuk mahasiswa reguler/pagi dengan mahasiswa ekstensi/sore. Bisa jadi nilai “A” bagi mahasiswa ekstensi merupakan nilai “B” atau “C” bagi mahasiswa reguler. Diakui atau tidak hal itu sudah lumrah adanya meski menimbulkan ketidakadilan di satu pihak. Saya kira sistem penilaian juga dipengaruhi oleh kualitas inputnya. Semakin tinggi kualitas input suatu PT semakin tinggi pula ukuran penilaian bagi mahasiswanya.
    Sekarang ini PT negeri berlomba-lomba menjadi badan hukum. Beberapa jalur penerimaan diterapkan untuk mendapatkan calon mahasiswa sebanyak-banyaknya dari SPMB,PSSB,UM sampai jalur kerja sama. Semua itu secara tidak langsung akan mempengaruhi eksistensi PT swasta. Terjadi persaingan antar PT yang akhirnya membawa dampak pada sistem penilaian yang ada. Saya setuju jika perubahan sistem penilaian harus dibarengi dengan peningkatan mutu lulusannya. Berbagai cara harus diupayakan seperti misalnya kerja sama dengan PT di luar negeri melalui pertukaran mahasiswa, twin in class, sit in program dan lain lain termasuk didalamnya peningkatan mutu SDM pengajarnya. Meski tidak bisa secara instan karena hal ini merupakan suatu proses yang memakan waktu lama, tapi yakinlah bagai seleksi alam akan tampak mana PT yang menghasilkan alumni berkualitas dan mana yang tidak. So biarkan dunia kerja melihat faktanya. setuju?

  2. Teman Undip Says:

    Setuju deh!

  3. Kadek Says:

    Sangat sulit untuk menyamakan kriteria di dalam menentukan IP, mengingat masing – masing kampus memiliki otoritas sendiri untuk menentukan kriteria dalam penentuan IP.


Leave a Reply