Kembali ke Laptop

Ada-ada saja masalah yang seharusnya tidak menjadi masalah di negeri ini. Anggota DPR ingin laptop pun menjadi sasaran empuk media masa dan massa. Kenapa keinginan anggota DPR untuk mendapatkan laptop dengan biaya 12 Milyaran menjadi pergunjingan bak sinetron Aladdin di negeri 1001 malam disana. Siapapun orang yang hidup dunia ini punya pikiran wajar dan normal jika ingin punya laptop. Dulu, laptop barang mewah dan mahal (walaupun sekarang masih mahal tetapi relatif lebih mudah dan terlepas dari kontroversi harganya yang dikatakan masih tetap mahal). Tetapi bagi orang yang membutuhkannya, laptop menjadi barang yang sangat bermanfaat. Sekalipun ada anggota DPR yang buta terhadap komputer, apakah salah jika wakil-wakil rakyat ini untuk belajar komputer ? Keinginan untuk bisa menggunakan komputer sudah merupakan keinginan yang bagus dan asal laptop tersebut nantinya memang akan meningkatkan kinerja dalam aktifitas mereka. Jadi, yang dipermasalahkan disini apa dong ? Laptop yang seharga 12 Milyar ? Ketidakpedulian anggota dewan terhadap kondisi bangsa ? (jangan terlalu mengada-ada lah, masak perbaikan kinerja dewan selalu dihadapkan pada kondisi bangsa). Atau karena pesimisme dengan kemampuan anggota dewan dalam penggunaan komputer ? Segala sesuatunya mesti jelas argumentasinya di negeri ini. Jangan biarkan generasi muda bangsa ini mengkritisi sesuatu yang memang tidak butuh kritikan. Bangun bangsa ini dengan pembangunan watak argumentatif, terarah dan futuristik. Dan tampaknya anggota dewan akan menunda keinginannya untuk mendapatkan laptop. Kembali ke laptop!

Dokumen Penginderaan Jauh

Banyak presentasi/makalah tentang penginderaan jauh yang sudah dipublish, baik level nasional maupun internasional, mulai dari aplikasi kehutanan, perkotaan, pertanian, mitigasi bencana, pengolahan citra, infrastruktur, lingkungan bahkan untuk keperluan kesehatan. Silakan hubungi saya di ketut@gd.itb.ac.id

Kembali ke Sampah

Kota Bandung kembali ‘diwarnai’ tumpukan sampah. Sampah rupanya sangat fenomenal di kota kembang ini. Bahkan dampaknya sudah mulai dirasakan oleh anak-anak sekolah dimana sekolahnya dekat dengan tumpukan sampah yang menggunung. Apakah anak-anak sekolah tersebut yang mesti memungut gunungan sampah tersebut kemudian membuangnya entah kemana ? Ada apa dengan kota Bandung ? Begitu sulitnyakah mengangkut sampah ? Atau karena alasan klise lainnya, seperti armada pengangkut sampah yang sangat terbatas atau lokasi TPA yang sudah penuh dengan sampah ? Kalau memang demikian adanya toh kita mesti tetap mengambil keputusan terhadap gunungan sampah tersebut. Apakah penanganan sampah bukan prioritas dalam pembangunan suatu wilayah ? Kalau iya, apa jadinya kota Bandung ini ? Dengan intuisi dengan level terendahpun seharusnya pemda Kodya Bandung dengan cepat menangani sampah yang berlarut-larut ini. Action plan pemda dengan menggulirkan pembangunan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) merupakan ide yang bagus, tetapi saat ini tidak realistis. Sekarang, yang paling diutamakan adalah kemana sampah tersebut dibuang ? Atau mengeluarkan kebijakan ketat dan keras kepada seluruh penduduk Bandung untuk tidak boleh membuang sampah ? Siapa sih yang akan mau ? Jadi, solusinya sudah sangat jelas; beli truk sampah (kalau kekurangan) dan cari lokasi TPA (kalau TPA sekarang sudah tidak memadai). Siapa yang memutuskan semua ini ?